Praktik Baik Bahasa Inggris HYPE dan Bahasa Indonesia CRT dalam Kombel SekarJagad Belajar
Komunitas Belajar SekarJagad SMP Negeri 9 Kota Surakarta kembali menggelar kegiatan berbagi praktik baik pada Senin-Selasa (8-9/12/2025) di aula sekolah yang diikuti seluruh guru dan tenaga kependidikan. Pada agenda rutin ini terdapat dua narasumber guru yang membagikan praktik implementasi pengajaran di kelas, yaitu guru mapel Bahasa Inggris, Anggraini W.P., S.Pd. dan guru mapel Bahasa Indonesia, Yuni Anjani, S.Pd. Sesi pertama digelar pada Senin dengan Anggraini sebagai narasumber yang memapaparkan praktik baik bertajuk HYPE (Happy Young People Exploring English) atau dalam Bahasa Indonesia berarti anak-anak muda yang gemar belajar Bahasa Inggris. Praktik pembelajaran tersebut berfokus pada mengoptimalkan productive skills Bahasa Inggris dari peserta didik dan kegunaannya dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu media pembelajaran yang digunakan pun beragam, mulai dari buku digital, memanfaatkan kemitraan dengan guru mapel lain, hingga menggunakan aplikasi-aplikasi game dan bahan ajar yang sesuai dengan perkembangan zaman dan kebutuhan peserta didik, seperti contohnya saat murid diminta untuk mempraktikkan langkah-langkah aktivitas sehari-hari melalui teks prosedur. Pada materi lain, para murid diminta untuk melakukan pengumpulan data sederhana guna membuat teks laporan dengan memanfaatkan sumber daya di sekitar seperti layaknya ilmuwan. Data yang didapat kemudian dipresentasikan melalui peta konsep yang dibuat sesuai kreativitas para murid. Selain mengasah kemampuan berbahasa Inggris, kegiatan pembelajaran ini juga memperkuat kerjasama dan pola berpikir kritis. Kombel sesi kedua digelar pada Selasa, (9/12/2025) dengan narasumber guru Bahasa Indonesia, Yuni Anjani, S.Pd. yang menyampaikan tentang praktik baik CRT (Culturally Responsive Teaching) yang berfokus pada menghubungkan aspek budaya dalam pembelajaran agar lebih dekat dan mudah dipahami. Dalam materi teks deskripsi, Yuni memberikan contoh cara mendeskripsikan tempe khas Wonosobo untuk memantik para murid. Kemudian mereka diminta mendeskripsikan budaya/makanan/minuman khas lainnya. Melalui kegiatan pembelajaran ini para murid tidak hanya belajar keterampilan berbahasa Indonesia, tetapi juga budaya dengan segala aspeknya. (Awp)





